Artikel

Perjalanan Tengkar KH Miftahul Akhyar

×

Perjalanan Tengkar KH Miftahul Akhyar

Sebarkan artikel ini

SITUBONDO (jurnalkota.web.id) – Jelang perhelatan akbar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), denyut nadi organisasi tidak hanya dirasakan melalui persiapan teknis, melainkan juga lewat dinamika internal yang kian menyita perhatian publik. Di tengah ekspektasi besar warga nahdliyin akan sebuah regenerasi yang solid, suara kritis muncul dari salah satu tokoh muda NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur.

Dalam refleksinya, Gus Lilur menyoroti adanya jurang yang semakin lebar di tingkat elite PBNU. Baginya, konflik berkepanjangan yang terjadi belakangan ini telah mencederai harapan akar rumput yang mendambakan suasana organisasi yang teduh dan harmonis.

Gus Lilur membedah keretakan tersebut dengan memetakan PBNU ke dalam dua poros utama yang kerap bersinggungan. Ia menyebutkan:

  • Poros Pertama: Meliputi KH Miftahul Akhyar, Saifullah Yusuf, dan Gudfan Arif Ghofur.
  • Poros Kedua: Meliputi KH Yahya Cholil Staquf, KH Ahmad Said Asrori, dan KH Amin Said Husni.

Menurut Gus Lilur, situasi ini menjadi ironis. Tokoh-tokoh yang secara organisatoris seharusnya saling melengkapi untuk menggerakkan jam’iyah, justru terjebak dalam ketegangan yang berulang dan seringkali menjadi konsumsi publik. Harapan akan stabilitas pasca-Islah Lirboyo, menurutnya, belum sepenuhnya terjawab di lapangan.

Gus Lilur menolak pandangan yang menyebut konflik di PBNU hanya sebatas “keributan” antara Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal. Ia menilai persoalan ini jauh lebih kompleks dan berakar dari pola kepemimpinan yang telah teruji dalam sejarah panjang perjalanan organisasi.

Ia pun menelusuri jejak struktural KH Miftahul Akhyar, sang Rais Aam saat ini, dalam berbagai fase:

  1. Periode PCNU Surabaya (2000-2005): Berpasangan dengan KH Asep Saifuddin Chalim, di mana muncul dinamika perbedaan pengelolaan organisasi.
  2. Periode PWNU Jawa Timur: Mendampingi KH Mutawakkil Alallah, yang kembali diwarnai perbedaan pandangan mengenai pembagian kewenangan antara unsur Syuriah dan Tanfidziyah.
  3. Periode PBNU (2015-2020): Menjabat sebagai Wakil Rais Aam mendampingi Ma’ruf Amin.
  4. Pasca-Muktamar ke-34: Terpilih sebagai Rais Aam berpasangan dengan KH Yahya Cholil Staquf (2021-2026).

Gus Lilur menegaskan, penelusurannya ini bukan bertujuan untuk menyebarkan fitnah, melainkan sebagai bahan refleksi bagi nahdliyin. Ia menyoroti pola yang menurutnya berulang di mana sosok Rais Aam selalu berada dalam episentrum ketegangan organisasi di berbagai fase kepemimpinan yang ia jalani.

Meski memberikan kritik tajam, Gus Lilur bersikap objektif. Ia mengakui bahwa tidak adil jika seluruh beban kesalahan dipikul oleh satu individu saja. Dinamika di PBNU dipengaruhi oleh berbagai variabel rumit, mulai dari perbedaan visi, komunikasi, hingga perebutan pengaruh di pusat kekuasaan.

Namun, ia menekankan urgensi kebutuhan akan pemimpin yang mampu menjadi “perekat”.

“Kita membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan, bukan menambah fragmentasi di tubuh jam’iyah,” tegasnya.

Ia mengajak nahdliyin menoleh kembali pada figur Rais Aam masa lalu, seperti KH Ahmad Siddiq dan KH Sahal Mahfudz. Kedua tokoh ini, menurutnya, adalah standar emas kepemimpinan NU: mereka dihormati bukan hanya karena kedalaman ilmu, tetapi karena keteduhan sikap, kesederhanaan hidup, dan kemampuan menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Menjelang Muktamar ke-35, Gus Lilur menitipkan pesan krusial bagi masa depan NU. Ia berharap momen ini tidak sekadar menjadi pergantian kepengurusan, melainkan momentum untuk mengakhiri konflik elite yang berkepanjangan.

“NU terlalu besar untuk terus-menerus disibukkan oleh konflik elite,” pungkasnya. Narasi yang ia bangun adalah ajakan bagi seluruh warga nahdliyin untuk lebih jeli dalam menentukan figur pemimpin masa depan yang mampu membawa NU kembali pada khitahnya sebagai organisasi yang mengayomi, teduh, dan kokoh di akar rumput.

Salam Amar Ma’ruf Nahi Munkar!!

HRM Khalilur R Abdullah SahlawiyWarga NU, Kiai Kampung

(Ipunk)