SITUBONDO (jurnalkota.web.id) – Menjelang perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, tokoh muda NU asal Situbondo, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur, melayangkan pesan krusial bagi seluruh peserta muktamar. Ia menegaskan agar forum tertinggi organisasi ini tidak sekadar menjadi ajang perebutan kekuasaan, melainkan momentum untuk memurnikan perjuangan dan memperkuat peran kebangsaan NU.
Menurut Gus Lilur, dinamika Muktamar ke-34 di Lampung pada 2021 harus menjadi pelajaran pahit yang membekas. Ia mengingatkan bahwa kekeliruan dalam memilih pemimpin dapat berimplikasi fatal, mulai dari perpecahan internal organisasi hingga kerentanan terhadap praktik korupsi dan syahwat kekuasaan.
“Muktamar ke-34 Lampung harus jadi pelajaran pahit yang tidak boleh dilupakan. Salah memilih pemimpin, dampaknya sangat fatal bagi NU, organisasi bisa terpecah, terseret arus korupsi dan nafsu kuasa,” tegas Gus Lilur kepada awak media, Kamis (19/6/26).
Inspirasi Semangat Piagam Jakarta
Di tengah tantangan geopolitik dan dinamika kebangsaan yang kian kompleks, Gus Lilur menekankan pentingnya meneladani sikap kenegarawanan para pendiri bangsa pada peristiwa Piagam Jakarta 18 Agustus 1945. Kala itu, para tokoh Islam memilih mengedepankan persatuan nasional dengan melakukan konsesi besar demi keutuhan NKRI.
“Semangat Piagam Jakarta itu adalah cara berpikir seorang pemimpin Islam, memilih kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan diri dan golongannya. Semangat itulah yang harus hadir di bilik pemilihan muktamar,” ujarnya.
Dukungan terhadap Keberlanjutan Nasional
Menyoal arah kepemimpinan masa depan, Gus Lilur berpendapat bahwa nahkoda baru PBNU harus memiliki komitmen kuat untuk mendukung stabilitas nasional yang saat ini dijalankan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ia memuji langkah duet Prabowo-Gibran dalam meredam polarisasi politik yang sempat tajam di masyarakat, serta keberhasilan mereka dalam membangun sinergi antar lembaga negara. Baginya, pemimpin NU ke depan harus sejalan dengan agenda keberlanjutan persatuan tersebut.
Atas dasar pertimbangan tersebut, Gus Lilur secara terbuka mengusulkan duet Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar sebagai Ketua Umum PBNU dan Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam. Ia menilai kombinasi keduanya adalah representasi ulama cendekia dengan rekam jejak keilmuan serta pengalaman organisasi yang mumpuni untuk membawa NU ke panggung global.
“Keduanya profesor asli, ulama tulen, cendekia sejati yang bisa mengharumkan NU di panggung global. NU ini kaya tokoh, jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik,” tambahnya.
Kritik terhadap ‘Gus-gus Nanggung’
Dalam kesempatan tersebut, Gus Lilur juga menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai ‘gus-gus nanggung’—sebutan bagi figur yang memanfaatkan simbol kesantrian sekadar untuk legitimasi politik tanpa dibarengi kedalaman ilmu. Ia memperingatkan agar NU tidak dijadikan kendaraan politik pribadi atau batu loncatan menuju jabatan tertentu.
Menutup pernyataannya, Gus Lilur berharap para kiai dan ulama peserta muktamar mampu mengambil keputusan yang bijaksana demi masa depan jangka panjang organisasi.
“Ini bukan soal hari ini saja. Ini soal masa depan NU dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan, itu yang sedang dipertaruhkan,” pungkasnya.
(Ipunk)












